11 August 2011

Puas di Paris

11 August 2011

#14
Paris, Perancis
Senin - Kamis, 8 - 11 Agustus 2011

Tiga tahun lalu, gue mengunjungi Paris hanya dalam waktu dua jam. Waktu itu lumayan gila karena seharusnya gue berada di bandara Charles de Gaulle untuk menunggu pesawat gue lepas landas kembali ke Indonesia. Tapi karena mumpung gue berada di Paris, maka gue nekat untuk mengunjungi dua monumen yang menjadi impian masa kecil gue hanya dalam waktu dua jam; Eiffel dan Arc du Triomphe.

Tiga tahun kemudian, Paris kembali menjadi kota yang gue kunjungi setelah kembali dari Taize dan sebelum bertolak ke Jakarta. Namun kali ini gue memberi waktu lebih untuk mengunjungi kota ini, alih-alih dua jam gue memberikan waktu 4 hari dan 5 malam. Hal ini juga sehubungan dengan ketersediaan harga tiket pulang juga sih (tiket hari jumat jauh lebih murah daripada hari kamis), jadi semakin memperkuat alasan gue untuk tinggal cukup lama di Paris.

Di ibukota Perancis ini, gue mengunjungi seorang teman baik yang gue temui di Taize. Kami bertemu lagi di Manila tahun lalu dan waktu itu gue sudah bilang bahwa gue akan mengunjungi dia di tahun ini. Sayangnya gue hanya bisa menginap di tempat dia selama tiga malam karena dia sudah harus bertolak ke Madrid untuk mengikuti World Youth Day. Malam keempat dan kelima, gue menginap di temannya teman gue ini yang ternyata juga sudah cukup sering bolak-balik ke Taize.

Seperti halnya keluarga besar Taize, walaupun kami belum pernah bertemu sebelumnya namun sambutan yang gue terima sangat hangat. Kunci apartemen dia pun gue pegang supaya gue bebas keluar masuk dari jalan-jalan gue kapan saja. Obrolan dan bertukar pikiran pun mengalir cukup lancar mengingat kami memiliki latar belakang dan ketertarikan yang sama; pernah tinggal lama di Taize meskipun masa tinggal dia lebih lama daripada masa tinggal gue yang hanya tiga bulan. Ini yang gue suka dari "keluarga besar Taize", siapapun yang pernah dan/atau tinggal lama di Taize pasti ada suatu keakraban dan komunitas tersendiri. Rasa saling percaya itu otomatis akan muncul ketika kata kunci "Taize" dimunculkan dari orang yang bersangkutan. Kata kunci itu juga menjadi salah satu hal untuk memperlancar pembicaraan karena kami bisa saling berbagi pengalaman masing-masing. Selain itu seperti yang dialami kebanyakan orang yang telah tinggal lama di Taize, pengalaman tersebut telah mengubah sebagian dari jati diri kami sehingga kurang lebih kami-kami ini seakan memiliki pola pikir yang sama, khususnya dalam hal kepercayaan, komunitas, semangat ekumenis, dan spiritualitas. Hal inilah yang menambah menarik setiap obrolan tukar pikiran diantara "keluarga besar Taize".

Obelisk

Kembali ke Paris, kota ini memang menjadi salah satu kota yang spesial bagi gue karena memang banyak sekali yang bisa dilihat lewat mata kepala dan difoto lewat kamera. Sejarah yang panjang dan bertumpuk, menyisakan arsitektur eksterior, tata kota, serta pola pikir masyarakat lokal. Sehubungan dengan bagaimana bangsa Perancis dahulu kala menaklukkan Mesir, Mediterania, Yunani, dan sekitarnya, seperti halnya Kerajaan Romawi mereka pun membawa pulang pengaruh arsitektur dari daerah-daerah hasil jajahannya itu. Walaupun obelisk yang ada di kota Paris tidak sebanyak di kota Roma, namun setiap obelisk yang ada menjadi spesial karena jumlahnya yang sedikit. Satu obelisk yang mengagumkan dan masih murni dengan hyreogliph di setiap sisinya berdiri tegak di persimpangan yang memisahkan antara Musee de Louvre dengan Arc du Triomphe. Selain obelisk, tidak tanggung-tanggung, mereka pun entah mengagumi atau saking terpengaruhnya oleh kebudayaan Mesir, menempatkan bangunan piramid dan menjadikan piramid kaca itu sebagai ikon dari Musee de Louvre. Arsitektur bangunan apartemen dan toko-toko di pusat kota Paris pun cukup latah akan pengaruh Mediterania yang kental. Berwarna coklat, dengan ukiran detail yang menghiasi setiap sudut bangunan, menjadikan pusat kota Paris ini sedap dipandang mata.

Berbicara mengenai Perancis, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan perihal agama. Perancis yang sekarang memang sekuler, dalam arti memisahkan persoalan agama dan negara. Namun dalam sejarahnya, warga Perancis adalah penganut agama Katolik yang taat dimana dahulu kala persoalan agama dan negara masih menjadi satu. Kalau gue tidak salah hitung, ada dua penampakan Bunda Maria yang tercatat di Perancis; Lourdes dan Rue de Bac di Paris dimana kedua tempat itu sekarang menjadi tempat perziarahan umat Katolik. Banyak pula santo-santa yang diakui oleh agama Katolik berasal dari Perancis. Santa Katarina Labore yang menjadi saksi mata penampakan Bunda Maria di Rue de Bac, Santo Vincent de Paul dan Santa Louisa de Marillac yang merupakan santo dan santa pelindung para pekerja sosial. Tubuh relik Santa Katarina Labore yang masih utuh disemayamkan bersama dengan tubuh relik Santa Louisa de Marillac di Gereja Miraculous Medal di Rue de Bac yang menjadi lokasi asli penampakan Bunda Maria terhadap Santa Katarina Labore. Tubuh relik Santo Vincent de Paul sendiri disemayamkan tidak jauh dari Rue de Bac, di Gereja St. Vincent de Paul.
Basilica Sacre Coeur

Berbicara mengenai gereja, Paris sendiri memiliki beberapa gereja yang spesial dan wajib untuk dikunjungi (dan berdoa di dalamnya). Basilika Sacre Couer (Basilika Hati Kudus) yang terkenal karena kubah putihnya yang megah, masih menjalankan ritual adorasi pentahtahan Sakramen Maha Kudus yang berlangsung tanpa henti; 24 jam selama 150 tahun terakhir. Katedral Notre Dame yang besar dan impresif, apalagi dengan arsitektur eksterior yang indah, ditambah dengan jendela mawar yang menawan di dua sisi gereja. Gue boleh berbangga ketika gue mengantri masuk katedral ini, ternyata pas dengan jam misa, maka gue pun mencatat satu lagi pencapaian dalam hidup gue; misa sore di Katedral Notre Dame. Penggemar dan pemburu lokasi-lokasi dalam novel Da Vinci Code tidak boleh melewatkan kunjungan ke Gereja Saint Sulpice, sebagai satu-satunya gereja di Paris yang dilewati oleh garis mawar; garis yang membelah Perancis menjadi bagian barat dan timur. Menariknya, di salah satu sudut di gereja ini dipasang penjelasan yang mengkonfirmasi ulang fakta-fakta tidak benar tentang gereja ini yang dituliskan oleh Dan Brown dalam novelnya. Bagusnya, ketiga gereja yang gue sebutkan diatas ini tidak dibutuhkan biaya untuk masuk ke dalamnya. Yang gue cukup kecewa adalah ketika gue ingin mengunjungi Gereja Sainte Chapelle untuk melihat salah satu duri dari mahkota duri yang dipakai Yesus selama disalib, ternyata dipungut biaya.

Sedikit "berpaling" dari dunia rohani, tidak ada salahnya untuk sedikit mengintip dunia malam di kota Paris. Kawasan Montmartre rasanya tempat yang paling tepat untuk mencicipi wajah lain dari Paris, dengan berderetnya "toko-toko dewasa" di sepanjang jalan Boulevard de Clichy. Tidak seperti Amsterdam, tidak ada lokalisasi prostitusi di Paris, apalagi pelacuran memang ilegal di Perancis. Namun berderetnya toko-toko dewasa ini lumayan membuat gue berdecak kagum mengingat kawasan Soho di London kalah secara kuantitas dari kawasan Montmartre ini. Apalagi di dekat stasiun Metro Blanche, ada satu tempat yang menjadi ide dasar salah satu film musikal favorit gue; Moulin Rouge! Melihat gedung teater dengan kincir angin yang khas itu merupakan salah satu pencapaian gue dalam hal berburu lokasi syuting film-film favorit gue. Oya namanya juga dunia malam, akan jauh lebih sedap dipandang jika dikunjungi saat matahari telah terbenam karena lampu-lampu dari toko-toko tersebut berlomba untuk menjadi yang paling mencolok dan menarik perhatian. Apalagi si kincir angin Moulin Rouge baru berputar ketika lampu-lampu eksterior teater dinyalakan.

Keseluruhan kota Paris di malam hari juga tidak kalah cantiknya dan sayang untuk dilewatkan, apalagi objek-objek wisata utamanya seperti Eiffel dan Louvre. Menara Eiffel di malam hari memang jauh lebih cantik dibandingkan siang hari, namun bersiaplah karena setiap satu jam di menit 00, ikon Perancis ini akan berkelap-kelip dengan lampu blitznya selama beberapa menit. Mengambil foto jalanan Champ de Elysse dengan latar belakang Arc du Triomphe juga akan mempercantik koleksi foto di kamera.

Bagi petualang kuliner, boleh sedikit sirik dengan gue yang beruntungnya ditraktir oleh teman gue ini dengan makanan khas Perancis; Crepe. Banyak restoran Creperie yang tersebar di seantero kota Paris, namun jika ingin merasakan pengalaman dikelilingi berbagai restoran Creperie yang ada, tidak ada yang lebih baik ketimbang kawasan Mountparnasse. Tidak sulit untuk mencapai kawasan ini, cari saja satu gedung hitam modern yang menjadi satu-satunya skycraper di kota Paris; Mountparnasse Tower (seperti halnya Beetham Tower di Manchester). Crepe yang disajikan di salah satu restoran Creperie yang kami kunjungi ternyata berbeda dengan crepe yang biasa ada di berbagai mal di Jakarta. Crepe model Jakarta memang ada, namun ternyata ada crepe yang menjadi makanan utama orang Perancis. Alih-alih dilipat dan dibungkus oleh kertas, crepe tersebut diletakkan di piring seperti halnya pizza, kemudian diisi dengan berbagai jenis makanan. Pilihan gue jatuh pada crepe berisi bacon dan telur, plus satu kejutan; sayuran yang dimasak dengan saus tomat atau sebutan orang Perancis adalah ratatouille! Haha! Satu lagi pencapaian hidup dalam hal film! Ratatouille itu ternyata semacam salad dan disajikan sebagai menu sampingan. Menurut penuturan teman gue, ratatouille bisa dimakan dengan menu utama apa saja; kentang, nasi, atau bahkan crepe. Ratatouille pertama dalam hidup gue itu pun membuat gue setuju dengan reaksi Anton Ego terhadap masakan Remy dalam film karya Pixar tahun 2007 itu; lezat!
Crepe with Ratatouille

Kunjungan kedua gue di kota Paris ini benar-benar memuaskan mata, lidah, hati, dan pikiran gue. Masih ada beberapa tempat yang ingin gue kunjungi namun waktu tidak mengijinkan seperti mengunjungi flea market di Porte de Clignancourt, tapi hal tersebut dapat menjadi alasan bagi gue untuk kembali ke kota ini.

Sama seperti tiga tahun lalu, kota ini menjadi pijakan terakhir gue di Eropa. Tahun ini, kota Paris menjadi tambah spesial karena kota ini menjadi tempat keempat belas yang gue kunjungi, dan menjadi penutup yang manis dari perjalanan panjang 32 hari gue di Eropa. Walaupun di hari terakhir gue telah merasakan "overload" akibat banyaknya hal yang telah gue terima dalam sebulan terakhir mulai dari Hamburg sampai Paris, namun itu menjadi persiapan dan bahan pemikiran untuk 14 jam terbang dari Paris sampai ke Jakarta.

Memang gue telah mengambil total 1880 foto selama 32 hari dari 14 tempat yang gue kunjungi di 4 negara yang berbeda, dan foto-foto tersebut akan tersimpan rapi dalam komputer gue. Namun berbagai kenangan menyenangkan, khususnya pengalaman sosial dan kultural yang gue dapatkan dari teman-teman yang gue kunjungi, akan selalu melekat di hati dan pikiran gue dalam waktu yang sangat lama. Terima kasih Eropa, selamat tinggal, dan sampai bertemu 3-4 tahun mendatang!

0 jejak:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket Distributed by Deluxe Templates