Program relawan Vincentian Volunteers telah berakhir ketika gue mengetik tulisan ini. Selesai sudah misi pelayanan kami selama 10 bulan penuh semenjak September 2010 kemarin. Alih-alih di Glasgow, detik ini gue berada di Liverpool dari hari Minggu kemarin. Yup, gue menghabiskan seminggu terakhir di program ini di Liverpool untuk kerja di L'Arche. Keputusan ini bukan tanpa pemikiran dan pertimbangan yang berarti, persilahkan gue untuk menceritakan lebih lanjut kenapa dan bagaimana.
L'Arche (bahasa Perancis untuk "The Ark") adalah sebuah organisasi Kristiani yang berbasis komunitas untuk merawat orang-orang dengan kesulitan belajar. Jadi konsepnya adalah, orang-orang kesulitan belajar ini akan tinggal satu rumah dengan para asisten (yang rata-rata anak muda) dan hidup bersama sebagai komunitas. Pertama kali gue mengenal L'Arche ini adalah pada saat gue tinggal di Manila tahun 2009-2010 kemarin, dimana ada satu hari kami mengunjungi workshop L'Arche untuk membantu para core member (sebutan untuk orang-orang kesulitan belajar yang tinggal di L'Arche) membuat kerajinan tangan (kertas daur ulang dan lain-lain) untuk kemudian dijual dan menjadi biaya hidup mereka. Kunjungan pertama itu langsung membuat gue jatuh hati pada organisasi ini. Apalagi baru kali itu gue bisa berinteraksi secara dekat dengan orang-orang kesulitan belajar, yang ternyata mereka masih bisa melakukan sesuatu yang produktif!
Ternyata garis hidup gue yang bersinggungan dengan L'Arche tidak hanya sampai disitu saja. L'Arche yang memang bermula dari Perancis, hingga kini telah tersebar di 40 negara. Ketika gue mengunjungi Rotterdam akhir tahun 2010 kemarin untuk berpartisipasi dalam pertemuan tahunan Taize European Youth Meeting, sengaja gue mengikuti salah satu seminar tentang komunitas L'Arche yang berada di Rotterdam. Lagi-lagi seminar singkat itu membuat gue jatuh hati dengan komunitas ini, dimana pada waktu itu para asisten bersama dengan core member saling bercerita tentang bagaimana kehidupan mereka. Seminar itu pun ditutup dengan menyanyi dengan tarian bersama dengan core member.
Program Vincentian Volunteers yang gue ikuti ini memang ada satu penempatan di L'Arche Liverpool, dimana salah seorang relawan asal Indonesia membantu di komunitas sana. Dengan fakta itu, gue pun meminta secara khusus kepada atasan gue apakah boleh gue menghabiskan seminggu terakhir dalam program ini dengan bekerja di L'Arche. Alasan gue adalah gue ingin mendapatkan pengalaman lebih lama untuk bekerja dan berinteraksi secara dekat dengan orang-orang kesulitan belajar. Alasan yang kedua adalah, mumpung gue berada di negara berbahasa Inggris, maka komunikasi dengan orang-orang kesulitan belajar disini akan jauh lebih mudah (dibandingkan berkomunikasi dengan mereka di Manila yang berbahasa Tagalog dan di Rotterdam yang berbahasa Belanda). Sayang, komunitas L'Arche belum buka di Indonesia jadi kesempatan ini akan menjadi kesempatan yang berharga. Beruntung, atasan gue yang baik hati mengabulkan permintaan aneh gue.
Setelah menghabiskan seminggu di L'Arche, gue senang dengan keputusan gue. Awalnya gue sempat ragu apakah keputusan yang telah gue ambil ini tepat, tapi ternyata keraguan tersebut terjawab baik dengan indah dan berharganya interaksi gue dengan Mark, Anthony, Jacky, Nicky, Pete, James, dan lainnya.
Hari pertama, gue disambut oleh Anthony. Pria 35 tahun yang bertubuh tinggi besar ini mengalami kesulitan bicara sehingga ia harus menggunakan Macaton (bahasa isyarat khusus untuk orang-orang kesulitan belajar). Gue baru taruh tas dan jaket, tiba-tiba langsung dipeluk dan digandeng ke luar ruangan sama orang ini. Lalu dia langsung berkomunikasi dengan gue lewat bahasa isyarat dimana gue sama sekali engga mengerti apa yang dia maksud. Beruntung ada seorang asisten asal Hongaria yang mengikuti kemana dia pergi sehingga dia menjadi penerjemah gue. Ternyata Anthony ini memiliki short-span attention, jadi apapun yang ia katakan selalu dia ulangi beberapa menit kemudian. Hal inilah yang membuat gue bisa mengerti beberapa bahasa isyarat di hari pertama gue. Lucunya, kalau berinteraksi dengan Anthony ini seperti main tebak-tebakan. Kalau gue salah mengerti, maka si Anthony akan ngomel atau tepuk jidat. Anthony ini rasanya cukup senang untuk bercerita. Dia bercerita bagaimana nanti malam dia akan pergi ke pub bersama carer-nya, atau bagaimana akhir pekan ini dia akan bertemu dengan orang tuanya.
Kelakuan dia yang suka bikin kesal adalah bagaimana dia yang suka hilir mudik di ruangan workshop lalu tidak bisa diam. Gue yang selama seminggu itu dapat kerjaan membuat keset, alhasil harus sambil menjinakkan Anthony yang terkadang menganggu orang-orang yang sibuk membuat lilin di ruangan seberang. Kebiasaan buruk Anthony kalo lagi bad mood adalah meludahi orang lain. Oh ya benar sekali, sudah beberapa kali gue diludahi oleh orang ini karena gue meminta dia dengan tegas untuk tidak mengganggu orang lain dan kembali bekerja. Tapi kalau Anthony sedang memiliki mood yang bagus, dia akan menjadi sangat manis dan terus bercerita. Atau tiba-tiba dia memeluk gue tanpa alasan tertentu.
Ada Mark, pria yang satu ini lebih bisa berkomunikasi dari Anthony. Walaupun bicaranya kurang jelas tapi gue masih bisa mengerti akan apa yang dia bicarakan. Dia masih bisa dan mau untuk duduk manis di meja kerjanya dan mengerjakan keset dengan tenang dan baik. Salah satu kebiasaan buruknya adalah dia genit! Suka iseng dengan orang lain, khususnya para wanita. Di satu siang, secara mengejutkan dia memberikan sandwich milik dia ke gue tanpa satu alasan tertentu. Gue yang kebingungan, mengonfirmasi akan fenomena tersebut ke staff lain "is this for real?" dan mereka mengatakan iya. Ternyata, biasanya Mark memberikan sandwich kepada wanita. Tapi khusus siang itu, dia memberikan sandwich ke gue!
Ada si kembar Jacky - Nicky. Mereka juga bisa berkomunikasi dan bekerja dengan baik. Lebih dewasa ketimbang Mark. Mereka malah sudah bekerja di luar workshop L'Arche, menjadi pembersih dan pencuci piring di salah satu restoran dalam dua hari seminggu. Saking mereka tidak terlihat sebagai orang yang kesulitan belajar, gue jadi suka iseng dengan mereka. Sayangnya, sampai hari terakhir gue di L'Arche, gue masih saja suka terbalik dalam memanggil nama mereka.
Itu adalah beberapa contoh menyenangkan yang gue alami selama satu minggu bekerja di L'Arche Liverpool dari sekian banyak pengalaman menyenangkan yang gue dapatkan. Dari berbagai pengalaman tersebut, gue belajar banyak, khususnya dengan bagaimana menghadapi orang-orang yang mengalami kesulitan belajar atau yang biasa kita kenal sebagai down syndrome. Gue menjadi belajar bahwa orang-orang seperti ini ternyata hanyalah orang-orang biasa seperti kita. Satu-satunya perbedaan antara gue dengan mereka adalah kemampuan kami untuk belajar hal baru, dan mungkin kemampuan fisik dan mental, that's it! Di luar itu, mereka adalah manusia biasa yang butuh perhatian dan kasih sayang seperti yang lainnya. Walaupun Anthony yang sebegitu kurang responsifnya terhadap lingkungan sosial, dia tetap bisa merasa sedih atau marah ketika gue terlalu tegas atau cuek terhadap kehadiran dirinya. Nicola yang bisa menangis setelah tahu bahwa ia tidak perlu membawa makan siang ketika kita beritahu bahwa siang itu kita akan memberikan makan siang kepada semua orang. Dan lain sebagainya. Berbagai hal ini melatih gue untuk memperlakukan mereka layaknya manusia biasa seperti lainnya. Mungkin ada beberapa perlakuan khusus, tapi gue rasa "perlakuan khusus" itu pun normal layaknya ketika kita menghadapi anak umur 8 tahun dimana kita harus menggunakan kosa kata yang mudah dan nada suara yang kekanak-kanakan. Atau ketika kita sedang berbicara kepada dekan fakultas misalnya, kita akan menjadi lebih hormat dan sopan.
Pengalaman satu minggu di L'Arche Liverpool ini setidaknya membuka satu lagi jalan alternatif bagi hidup gue. Di masa depan nanti, ketika gue bosan dengan hidup dan rutinitas sehari-hari, gue tahu akan kemana untuk menghabiskan beberapa bulan dalam hidup gue untuk tinggal dalam satu komunitas - selain Taize tentunya.
Tentang L'Arche dari Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/L'Arche
L'Arche International: http://www.larche.org/
L'Arche UK: http://www.larche.org.uk/







0 jejak:
Post a Comment