Tentang Visualisasi Jalan Salib 2012

Tuesday, April 10, 2012

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis. Ya rasanya gue memang harus menyalahkan kesibukan gue dalam tiga bulan terakhir ini. Tapi sekalinya menulis, gue mau berbagi cerita yang cukup menarik dalam sejarah hidup gue, dan rasanya sayang kalau tidak terdokumentasi dalam blog gue ini.

Semua ini berawal dari masa-masa homesick gue di Glasgow. Salah satu perasaan yang nyangkut di masa-masa itu adalah perasaan kangen untuk aktif dalam pelayanan di paroki gue. Terutama di masa Pra-Paskah dimana gue terbiasa untuk menyiapkan Tablo atau Visualisasi Jalan Salib, entah menjadi pemain, panitia, atau pelatih/sutradara. Terakhir kali gue terlibat di Tablo Paroki St. Yakobus itu di tahun 2009, dimana gue menjadi pelatih, sutradara, sekaligus pemain (figuran, untuk menutupi kekurangan orang). Dua tahun berikutnya, karena kesibukan mengejar mimpi pun membuat gue harus mengorbankan kebiasaan dan hobi gue tersebut. Di tahun 2012 ini, kebetulan gue berada di Jakarta, dan sebelum gue pergi lagi membangun karir, rasanya ini adalah tahun yang tepat untuk terlibat lagi di Tablo.

Semenjak kepulangan gue ke Indonesia di bulan Agustus pun, gue sudah mencanangkan komitmen untuk terlibat, dengan mulai menulis naskah baru untuk Tablo 2012. Niat menulis naskah baru ini memang sudah ada sejak lama, terlebih lagi karena rasa ingin menambah pilihan naskah Tablo di Paroki St. Yakobus, yang selama ini hanya bertumpu pada satu naskah hasil karya Roland Wiryawan tahun 2006 kemarin. Proses penulisan naskah gue ini memang banyak bertumpu pada naskah karya Roland itu, dengan banyak menambahkan interpretasi gue sendiri terhadap kisah sengsara Yesus Kristus. Referensi gue yang lain adalah tentunya dari ke-4 Injil yang ada, film The Greatest Story Ever Told, The Passion of the Christ, dan Passion Play yang gue saksikan secara langsung di Bolton, Inggris. Proses penulisan yang lama, inspiratif, melelahkan, dan seru akhirnya selesai tepat sebelum latihan pertama Tablo 2012. Ya sebenarnya memang mau tidak mau harus selesai sih, dan memang deadline gue adalah latihan pertama itu.

Belajar dari pengalaman menyutradarai di tahun 2008 dan 2009, gue akan kewalahan untuk melatih akting plus mengarahkan pemain sesuai dengan naskah. Maka dari itu, gue mengaktifkan kembali teater OMK di paroki, Teater SIJI, plus merekrut orang-orang baru. Pentas teater di Sumpah Pemuda pun jadi momen yang tepat untuk itu, sekaligus menjadi ajang pemanasan bagi pemain-pemain yang terlibat di pentas tersebut. Setelah itu, kami sepakat untuk mengadakan latihan rutin seminggu sekali, berjudul Klinik Teater. Gue pun menggunakan kesempatan itu untuk menguras habis dan membagikan ilmu-ilmu teater, terutama yang pernah gue dapatkan dari Roland. Ini memang salah satu dari keinginan gue, karena gue sadar sebab dari matinya regenerasi Teater SIJI adalah karena berhentinya proses pewarisan ilmu-ilmu akting sampai pada generasi gue. Berhubung sisa dari generasi gue sudah bisa dihitung sampai jari tangan kanan dan sebelum gue pergi, ini adalah waktu yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu yang gue dapatkan dulu. Ya dengan harapan, proses berbagi ilmu ini akan terus berlangsung untuk ke depannya nanti.

Follow up dari Klinik Teater itu adalah terbentuknya Tim Pelatih untuk proses latihan Tablo 2012 yang akan berjalan kurang lebih dua bulan, dengan 15 kali pertemuan. Bersama-sama, kami pun merancang kurikulum pemanasan dan latihan Tablo sampai hari-H, yang jatuh pada tanggal 6 April. Pembagian kerja pun disepakati; Tim Pelatih akan bertanggung jawab terhadap pelatihan akting dan pemanasan, gue bertanggung jawab terhadap kurikulum pelatihan akting dan pengarahan pemain sesuai naskah.

Setelah dua minggu menggelar promosi besar-besaran untuk mencari pemain, Minggu, 29 Januari 2012 Pk. 1300, latihan pertama ini ternyata langsung dihadiri sekitar 14 orang. Jumlah yang menurut gue cukup banyak, setidaknya dengan pengalaman gue di tahun 2008 dan 2009 yang begitu sulit mencari pemain. Di latihan pertama, memang gue belum memberikan pelatihan akting, tapi masih pada diskusi mengenai kisah sengsara Yesus, baca naskah, dan sedikit perkenalan tentang pelatihan vokal. Tapi ada dua hal yang membuat gue senang; sebagian besar yang datang adalah orang-orang baru yang belum pernah terlibat dalam tablo sebelumnya, dan sebagian besar yang datang itu berbakat untuk berakting!

Di latihan-latihan berikutnya pun orang-orang yang datang untuk terlibat sebagai pemain semakin bertambah. Dan masih saja, orang-orang yang baru bergabung di tengah jalan itu masih saja orang-orang yang berbakat akting! Ini membuat proses casting cukup sulit, karena orang-orang ini bisa menjadi karakter apa saja. Tapi akhirnya proses pemilihan peran itu pun selesai, dan gue yakin orang-orang ini cocok dengan karakter mereka masing-masing dalam naskah ini.
Sekitar awal Februari, panitia pun disusun untuk mendukung proses produksi. Evan Septian terpilih menjadi ketua panitia. Walaupun belum pernah terlibat ataupun menonton tablo sebelumnya, kepercayaan gue terhadap dia cukup besar. Selain karena gue pernah kerja sama dengan dia sebelumnya, track record-nya di misdinar pun sangat baik. Sementara dia menyusun kepanitiaan, gue pun melanjutkan pelatihan kami.

Kepercayaan gue terhadap Tim Pelatih pun semakin meningkat, dan gue semakin mengandalkan mereka. Terutama di bulan Februari dimana kesibukan gue di kerjaan membuat gue terpaksa datang terlambat ke latihan. Setiap latihan itu terbagi dalam dua sesi; sesi pemanasan dan sesi running. Nah seterlambatnya gue pun, setidaknya gue bisa hadir di sesi running. Kalau gue terlambat di sesi running, dan bahkan ga bisa hadir, disini waktunya asisten sutradara berperan. Oh ya, dari awal gue memang sudah meminta bantuan beberapa orang, yang sudah cukup sering terlibat di tablo sebagai pemain, untuk menjadi asisten sutradara. Ini untuk mendukung dan menutup kekurangan gue sebagai sutradara sih; mulai dari kehadiran, minim multi-tasking, sampai kurang pekanya gue terhadap hal-hal detil.

Menurut gue, yang seru dan asyik dari proses pelatihan adalah pemanasannya yang merupakan acting rehearsal! Karena kita harus membekali para pemain dengan ilmu-ilmu dasar akting; mulai dari vokal, artikulasi, intonasi, ekspresi, gesture, blocking, business acting, music sensitivity, spontanitas, sampai pada improvisasi. Nah berhubung gue engga pernah mendapatkan pendidikan akting/teater secara profesional, jadi setiap latihan akting itu beberapa gue membuat teknik latihannya sendiri. Ditambah dengan beberapa modifikasi dari latihan-latihan akting warisan dari Roland. Jadi memang kebanyakan eksperimental sih, tapi gue selalu mengevaluasi bersama beberapa pemain dan tim pelatih, seberapa efektif teknik latihan baru itu. Hehe.

Yang keren sih di bidang musik. Kalau tablo 2008 dan 2009 gue isi dengan lagu-lagu Taize, kali ini gue sangat terinspirasi dengan musik klasik dan scoring film. Kalau scoring film, secara khusus gue jatuh cinta dengan beberapa lagu yang ada dalam film The Tree of Life. Dari hasil muter-muter dan survey, gue cuma berhasil nemu dua lagu yang rasanya bakal cocok di adegan tertentu nantinya. Z. Preisner - Lacrimosa di adegan pemakuan, dan Funeral Canticle di adegan pencambukan. Rencana memang dua lagu ini akan diputar secara digital saja. Tapi tetep aja gue butuh musisi yang bisa mengiringi musik secara live untuk adegan-adegan lain. Tadinya mau regenerasi dengan coba organis baru, tapi belum ada yang menyanggupi untuk menafsirkan emosi adegan dengan not-not organ. Akhirnya gue kembali ke orang yang mengiringi Tablo 2009 kemarin; Sisi! Gue sih percaya sama dia, dan gue kasih dua lagu itu sebagai referensi kira-kira seperti apa "genre" musik di tablo kali ini untuk mengisi adegan-adegan lainnya. Tidak disangka, Sisi malah sanggup mainin Lacrimosa secara live! Wah, even better! Dengan diskusi yang cukup, dia juga sanggup mengisi adegan-adegan lainnya dengan musik yang cocok dan mendukung emosi adegan secara pas. Terakhir, kami memutuskan untuk menambah sentuhan instrumen gitar dan flute dari kelompok Doa dengan Nyanyian dari Taize (pesan sponsor ;p) dan vokal dari Chrisilla Vocal Group (pesan sponsor ;p) untuk mempercantik melodi. Hasilnya? Diluar ekspektasi gue!

Setelah 15 kali pertemuan yang panjang, saat Gladi Kotor pun tiba, hari Minggu 1 April pas Minggu Palma. Di Gladi Kotor ini, berhubung bisa persiapan dari pagi, jadi gue mengusulkan untuk sekalian tes make up dan backdrop. Untuk tes make up, gue cukup puas sih dengan hasilnya. Ada banyak orang baru yang direkrut sebagai make up artist, tapi karena latar belakang mereka yang memang profesional di bidang make up, jadi cukup mudah untuk mengarahkannya. Awalnya memang sempat kebawa penyakit lama make up sih; jadi make up cantik! Tapi setelah arahan lebih lanjut, lambat laun mereka mulai mengerti seperti apa make up karakter itu. Sedangkan di bidang backdrop dan dekorasi, masih banyak hal yang perlu ditingkatkan. Well, itulah gunanya latihan kan.
Gladi Resik, Selasa 3 April, gue maunya semua teknis sudah full set - kecuali make up; itu berarti dekorasi, backdrop, lighting, dan sound system, semua harus sudah seperti Hari-H. Beruntung keputusan itu kami buat, karena dari berbagai segi teknis itu ada banyak hal yang dievaluasi dan bisa ditingkatkan lagi di Hari-H. Terutama dari segi pemain juga sih, yang vokalnya entah kenapa turun semua, padahal sudah pakai mic phantom di berbagai sudut! Akhirnya kami sepakat untuk menambah jumlah mic phantom di panggung, dan ada wacana untuk menggunakan clip on bagi pemain-pemain yang memiliki karakter vokal yang kurang kuat. Ini demi menyelamatkan dialog yang ada agar umat bisa mendengar dialog tersebut.

Yang seru adalah malam sebelum Hari-H. Entah kenapa gue engga merasakan apa-apa, kaya polos gitu. Ga ada khawatir atau stress atau grogi atau excited atau apapun lah itu. Bener-bener yang kosong polos kaya udah kebal gitu. Tapi tetep bikin ga bisa tidur sih ahahaha. Ya gimana mau tidur, baru sampai rumah jam 12, jam 3 harus udah bangun lagi. Karena janjian untuk kumpul buat make up itu jam 4 pagi di gereja. Uhuy!

Jumat, 6 April 2012, Pk. 0400 - 0800. Nah ini dia tiba-tiba segala macam perasaan campur aduk. Mulai dari grogi, khawatir, excited, sampai ke sedih! Trus, ga tahu apa karena memang gue engga sarapan atau karena perasaan campur aduk itu, kedua tangan gue sampai gemetaran engga kontrol, jantung juga deg-degan sangat. Lalu gue putuskan untuk ngemil dua macam, dan gemetaran itu pun hilang. Dan waktu menunggu make up itu pun gue gunakan untuk lebih dekat mengenal pemain, terutama orang-orang baru. Sedikit merasa bersalah sih, kenapa baru sekarang?? Dan mau menyalahkan kesibukan selama ini setiap kali latihan, yang gue mesti ngurus ini itu lah dan segala macam. Tapi ya tidak ada kata terlambat.

Ternyata make up pun nyaris engga selesai padahal jam sudah menunjukkan Pk. 08.00, dimana di jadwal gue ini sudah seharusnya waktu untuk pemanasan dan penghayatan. Dengan sangat terpaksa, orang-orang yang belum selesai make up, dilanjutkan nanti. Gue pun memulai pemanasan dan penghayatan itu dengan sesi  mengeluarkan keluh kesan dan beban, dengan maksud ingin meringankan beban dan keresahan para pemain. Lalu gue lanjutkan dengan pemanasan vokal dan penghayatan.

Saatnya pun tiba, dan gue langsung menuju tempat duduk gue di tengah-tengah umat. Tadinya gue malah mau pegang Walkie-Talkie dan jadi "dirijen" dari semua segi teknis. Tapi niat gue ini dibantah dengan sukses oleh Dimas. Dia bilang, gue harus bisa nikmatin "hasil karya" dan duduk sebagai umat. Percayakan semua hal ke pemain dan panitia. Well said, akhirnya gue pun duduk di bangku umat. Dan minta ditemenin salah satu astrada, untuk jaga-jaga kalau gue bawel cemas dan panik. Ehehehehe.

Buku jalan salib pun sudah di tangan. Oiya, konsep tablo kali ini memang berbentuk visualisasi jalan salib. Artinya, umat akan memegang buku jalan salib di tangan, dan menjalani jalan salib seperti hari-hari Jumat di masa Pra-Paskah. Hanya saja kali ini, di bagian deskripsi setiap perhentian, digantikan dengan visualisasinya. Sisanya, tetap mengikuti buku jalan salib; mulai dari seruan tanggapan, doa, dan lagu antar perhentian. Konsep ini merupakan konsep percobaan karena belum pernah dilakukan sebelumnya di paroki gue, dan demi mengembalikan esensi Visualisasi Jalan Salib sebagai pewartaan dan penghayatan, bukan sebagai tontonan yang mengundang tepuk tangan dan decak kagum.

Singkat cerita, hasil keringat, urat, otot, otak, dan darah selama dua bulan terakhir terbayar dengan tuntas! Bahkan diluar ekspektasi gue! Semua pemain berakting dengan luar biasa dan sangat masuk ke dalam karakter. Segala macam kritik dan kekurangan di latihan-latihan sebelumnya, dijawab dengan luar biasa. Vokal dan artikulasi, semua terdengar dengan jelas. Khususnya yang kemarinnya udah sepakat dipakein clip-on (tapi ternyata ga jadi karena barangnya ga ada), bisa menjawab hal itu dengan power vokal yang kuat! Tangis dan air mata pun seakan sungguhan. Yang menakjubkan adalah, mata gue dibuat basah oleh akting salah seorang pemain di salah satu adegan, yang dialognya gue karang sendiri!

Disaat gue masih terkagum-kagum apa yang gue saksikan di depan, ternyata jenasah Yesus telah digotong oleh para serdadu dan muridNya, yang menandakan bahwa visualisasi jalan salib ini akan segera berakhir. Lalu sesuai kesepakatan dan instruksi awal, para pemain membentuk dua barisan seakan menjadi pagar betis di luar pintu gereja. Ini untuk memberi kesempatan kepada umat untuk memberi selamat dan tahu benar bahwa visualisasi jalan salib kali ini dipersembahkan oleh orang-orang muda.

Setelah semuanya selesai, yang bersisa hanyalah perasaan puas. Dan sedih. Puas karena apa yang gue lakukan selama dua bulan terakhir ini berbuah hasil yang luar biasa. Proses pewartaan itu sendiri pun sebenarnya telah terjadi selama dua bulan itu, diantara para pemain dan panitia. Jadi di visualisasi ini, kami hanya meneruskan pewartaan itu ke orang yang lebih banyak. Sedih, karena apa yang gue lakukan ini mungkin adalah yang terakhir kali gue lakukan. Ya, disini karir penyutradaraan gue akan berakhir. Mungkin dua-tiga tahun lagi gue akan kembali ke Jakarta, tapi pastinya sudah ada sutradara-sutradara muda dengan pikiran dan kreativitas yang lebih segar. Dan gue harus menghormati regenarsi tersebut, apalagi gue sendiri yang menyiapkan regenerasi itu.

Yah, gue cukup bahagia sih bisa menutup karir penyutradaraan gue dengan kepuasan dan aktualisasi diri yang maksimal. Engga ada lagi rasa penasaran, engga ada lagi rasa kurang puas. Yang ada, rasa bangga bisa bekerja sama dengan teman-teman yang punya semangat, komitmen, dan kreativitas. Jadi, terima kasih banyak atas totalitas pelayanan dan pewartaannya!


Yesus: Nicolas Nicky Pratama
Maria: Yoriza Salim
Yohanes: F.X. Kenrisen
Simon: Andreas
Veronica: Eveline Permadi
Wanita Israel 1: Angel Setiawan
Wanita Israel 2: Putri
Wanita Histeris: Frederica Pingkan
Rakyat 1: Wendah
Rakyat 2: Angeline
Barabas: Dimashito Dwi Pituko
Imam Hanas: Christopher Octaviano
Imam Kayafas: Andrew Kristofores
Imam Malkhus: Adriady Wijaya
Pilatus: Christopher Winsky
Hasut 1: Livia Stella
Hasut 2: Anastasia Lili
Hasut 3: Ucrit Dianita
Hasut 4: Rocky
Hasut 5: Ceicillia Della Beatrice
Kepala Serdadu: Ferry Adiwena
Serdadu 1: Stevanus Benedictus Leo
Serdadu 2: Michael Deuterokanonika
Serdadu 3: Valentinus Veby
Serdadu 4: Zenso Sagtavirion
Serdadu 5: Matthew
Serdadu 6: Alberto Albertus

NB: Lihat official photos Visualisasi Jalan Salib 2012 disini
NB: Baca juga cerita Tablo 2008 disini, dan Tablo 2009 disini
BONUS: Video hasil rekaman salah satu umat di adegan Pieta

 

You Might Also Like

3 comment(s)

  1. timoooo,,ada video nya ggaaa?? mauuu dooonkkkk..sepintass aja gpp,,plissss!!!!!!!!!!!! huwaaaaaaaa

    ReplyDelete
  2. decak kagum & standing applause untuk sutradara kita, Timotius Prassanto, atas dedikasi, kredibilitas, kreativitas & semangat berbagi yang luar biasa.
    BRAVO!

    ReplyDelete
  3. Tablo yang sangat amat berkesan bagi gw adalah tahun 2008 dan 2012. Which is di 2 Tablo itu ada lu mo. Don't know why ~~~~~ *lagu Norah Jones. Anywayyyy, great to work with u, can not wait to work with u again!!!

    ReplyDelete

About Me

Timo - a full-time explorer, a part-time writer, a film programmer, a movie passionate, an author of Sobekan Tiket Bioskop

Subscribe