Nostalgila: Gue & Taizé (2)

Sunday, November 06, 2011

lanjutan dari Nostalgila: Gue & Taizé

di tahun 2008, gue mendapat kesempatan untuk "naik haji" ke desa Taize. sungguh sebuah pengalaman luar biasa, benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan. dan sepulangnya gue dari Taize, gue menjadi lebih bersemangat untuk melayani DNTZ, semakin engga peduli dengan tingkat kehadiran umat dan tetap menyemangati teman-teman yang masih "gregetan" dengan tingkat kehadiran umat, lalu mencoba melebarkan sayap dengan mengunjungi paroki-paroki yang memiliki jadwal DNTZ setiap bulannya.

ternyata dengan program pelebaran sayap gue ini, sedikit banyak membuka cara pandang kami. kami jadi sadar bahwa selama ini kami "tidak sendirian". dalam arti, ga cuma paroki kami kok dimana umat yang datang doa ga lebih dari 20 orang. ga cuma paroki kami juga kok, yang menemui masalah dengan proses regenerasi. malah terkadang kami merasa bersyukur, bahwa kami punya lebih banyak pilihan alat musik yang bisa digunakan untuk mengiringi doa. selain itu juga, paroki-paroki lain yang kami kunjungi pun terkadang melakukan kunjungan balasan untuk hadir di salah satu DNTZ kami. jadi saling mengunjungi ini benar-benar membuka tali silaturahmi antara pemerhati DNTZ di berbagai paroki di Jakarta.


sampai pada suatu waktu dimana gue mulai secara rutin mengunjungi Paroki St. Theresia, Menteng dan sesekali bantu main gitar juga. nah paroki ini bisa dibilang "sesepuhnya" paroki yang ngadain DNTZ karena selain karena DNTZ di paroki ini udah berjalan lebih dari 10 tahun, juga karena orang-orang yang bantuin ngadain DNTZ berasal dari berbagai paroki. beberapa dari mereka pun juga udah pernah "naik haji", jadi ya bisa ditanya-tanya gitu dan bisa jadi sumber inspirasi pula.
nah suatu ketika paroki ini ngadain Misa dengan Nyanyian dari Taize (MNTZ). ketika gue denger, langsung lah gue niatin untuk misa hari Sabtu jauh-jauh ke Menteng. misa biasa sih kaya misa hari Minggu, cuma lagu-lagunya pake lagu-lagu Taize. gue ingat sepulang misa, gue langsung berkhayal kapan yah gue bisa ngadain MNTZ di paroki gue sendiri.

langsung donk tuh gue norak dan cerita-cerita ke kawan-kawan seperjuangan, tapi waktu itu kami merasa belum siap karena kurang sumber daya manusia untuk mengisi koornya. ya gimana, kami yang ngadain doa aja maksimal cuma lima orang. umat yang dateng setiap doa engga tentu jumlahnya dan engga pernah lebih dari 10 orang. intinya, kami benar-benar belum pede aja, dan gue juga kan belum pernah jadi koor di misa mingguan gitu jadi ga tau gimana tata caranya. belum lagi gue dan kawan-kawan sama sekali engga tahu kalo mau ngisi koor itu mesti bilang ke siapa.

sampai tiba bulan Juni atau Juli 2010 gitu deh gue lupa, salah satu romo bilang ke seorang teman seperjuangan "ayo donk kamu jangan main kandang terus, ayo kapan ngisi misa hari Minggu pake lagu-lagu Taize?". teman itu pun cerita dan tiba-tiba kami merasa tersentak. khususnya gue, karena gue sadar dalam waktu beberapa bulan gue sudah harus berangkat ke UK kan. lalu gue menerima berita bahwa salah seorang teman seperjuangan ini juga akan meneruskan studi di Cina. wuaduh, engga bisa engga, MNTZ ini harus diadain mumpung masih banyak sumber daya, setidaknya sebelum kami berdua berangkat.

langsung lah tiba-tiba gue menemukan semangat membara, dimana gue bisa sebodo amat berapa banyak orang yang mau dan bisa bantuin jadi koor. masalah birokrasi, pintu masuknya ya si romo ini. gue kejar-kejarlah si romo ini. sms ga pernah dibales, telepon ga pernah diangkat, gue niatin nongkrongin setiap misa tapi kok ga ketemu-ketemu. sampe akhirnya engga sengaja ketemu di katedral pas misa pengangkatan Uskup KAJ yang baru. gue samperin, dan dia bilang kalo gue mau ngisi koor, gue mesti bilang ke ketua seksi liturgi. OOOOOOOOH GITU THO. haha!

langsung deh gue telepon si ketua seksi liturgi, yang kebetulan baru dilantik pula. beruntung kami udah berkenalan sebelumnya di kesempatan yang lain, jadi setidaknya dia udah tau gue. berdasarkan percakapan telepon itu, dia bilang dia belum bisa kasih keputusan sebelum rapat seksi dua minggu kemudian. lagipula karena jadwal yang gue inginkan (Minggu, 29 Agustus 2010) udah diisi.

tiba-tiba masa penantian dua minggu itu menjadi masa penantian penuh deg-degan buat gue dan teman-teman seperjuangan. sampai pada hari dimana mereka seharusnya sudah rapat, gue pegang hp gue terus siap-siap kalo ada telepon ato sms. sampe malem kok ya engga di sms-sms. akhirnya gue sms duluan dan dia balas; "Halo timo, baik kalian tugas tgl 29 agt jam 18.00 di stasi kim taegon".
uaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh gue bener-bener sampe ketawa-ketawa girang setelah baca sms itu. langsung gue sms teman-teman seperjuangan dan banting tulang cari orang-orang yang mau dan bisa bantu jadi koor. secara waktu kami cuma kurang lebih tiga minggu untuk mempersiapkan semuanya.

susunan lagu udah gue siapin, gue yakin tim musik udah katam sama lagunya. gue juga udah kontak semua orang yang pernah bantu main instrumen untuk turun tangan dan mereka semua menyanggupi dengan gegap gempita. jadi tinggal koor aja nih yang bikin gue tarik urat. belajar dari pengalaman gue bantu koor MNTZ di Theresia, gue pun melakukan metode yang sama; minta bantuan sama orang-orang yang biasa ikutan DNTZ di paroki sendiri, dan tentunya teman-teman yang gue kenal yang gue tahu mereka suka dengan lagu-lagu Taize atau DNTZ tapi selalu berhalangan hadir. terhitung dari kenalan gue sendiri, gue cuma punya lima orang. gue minta bantuan seorang teman seperjuangan yang juga aktif di sebuah koor, untuk minta bantuan ke teman-teman koornya. respon balik yang gue dapatkan engga terlalu menggembirakan; cuma sekitar lima orang yang benar-benar mau membantu. wuaduh.

hari dimana latihan koor pun tiba, semua orang sudah dikontak, ruangan sudah di booking. dan yang datang cuma lima orang kenalan gue itu. hm, gue udah hampir mati gaya tuh. tapi ya gimana lagi, engga bisa juga latihan dibatalin. dengan asumsi yang akan jadi koor pada hari-H ya kelima orang ini, latihan tetap dijalankan dengan sepenuh hati. gue pun udah menurunkan ekspektasi gue dan mulai mempersiapkan batin bahwa yang akan bantu koor engga lebih dari sepuluh orang. gapapa juga lah, setidaknya masih ada suara yang akan menyanyikan lagu-lagu itu.
Minggu, 29 Agustus 2010, jam 16.00 dimana jadwal buat kami untuk Gladi Resik. tepat jam 16.00 gue udah datang dan gue sendirian. lima menit kemudian datang dua orang. lalu datang si organis. 16.15, wuaduh belum ada lagi yang dateng. yawdalah kita latian duluan aja. 16.30, semua tim musik udah datang, termasuk seorang teman dari Theresia yang bersedia bantu suling dan seorang lagi yang bantu main oboe. yang koor juga udah memenuhi ekspektasi awal gue; engga lebih dari sepuluh orang. ok, rasanya ga masalah lah.

17.00, lho lho ini kok tiba-tiba ada rame-rame orang-orang dateng dan duduk di bangku koor. oooh ini dia teman-teman koornya si teman seperjuangan gue ini. makin mendekat sebelum misa dimulai, jumlah anggota koornya makin bertambah. tepat sebelum misa dimulai, gue iseng-iseng ngitung ada berapa orangnya. sampai hitungan gue melewati angka 20, gue berhenti berhitung sambil senyum-senyum sendiri. yeaaaaaaaaaaaah!

misa pun dimulai dan ini dia sejarah dimana gue pertama kali duduk di bangku koor di paroki sendiri, dan pertama kali juga diadakan misa dengan nyanyian dari Taize di paroki ini (sotoy sih, tapi rasanya sih iya). ini dia hasil dari jerih payah kami semua, dan kenyataan yang terjadi dari mimpi dan angan-angan kami selama bertahun-tahun.
dan khusus untuk gue sendiri, ini adalah kado perpisahan terindah buat gue tepat tiga hari sebelum gue berangkat ke UK.

sekarang, berhubung gue udah terpisah jarak dan waktu dengan paroki gue, gue berharap DNTZ di paroki gue masih akan tetep berjalan minimal satu bulan sekali. walaupun gue tahu pasti, kini "teman-teman seperjuangan" itu tinggal satu orang. masih ingat dengan yang datang kucluk-kucluk bilang ke gue mau bantu main gitar, itu dia orangnya. gue yang ga enak ati, masih tetep berusaha memotivasi beberapa kawan, yang bantuin koor MNTZ kemarin juga, untuk ikutan DNTZ dan datang lebih awal untuk bantu-bantu dekor. yah sapa tau mereka bisa menjadi "teman-teman seperjuangan" berikutnya, meneruskan pelayanan kami sampai beberapa tahun ke depan.

sementara gue disini, berusaha untuk memenuhi komitmen baru gue untuk main gitar di DNTZ di sebuah kampus setiap hari Senin. seminggu sekali, bo! naik level ga sih ahahaha :D

semangat!

NB: gue ingin mengucapkan TERIMA KASIH BANYAK kepada nama-nama yang gue sebut di bawah ini, bahwa mungkin kalau tanpa kalian, MNTZ di Paroki St. Yakobus engga akan bisa sampai sekarang ini.
"teman-teman kenalan gue pencinta DNTZ": Yoriza, Tere, Wulan, Vinny, Indra
"organis MNTZ di KTG": Stella
"teman-teman luar paroki yang bantu MNTZ": Inge dan Mas Putra
"romo yang nantangin ngadain MNTZ": Rm. Gunawan
"romo yang ngedukung penuh MNTZ dan yang mimpin misa": Rm. Romanus
"ketua Sie. Liturgi": Pak Werner
"teman-teman koor yang tiba-tiba datang": wah gue ga apal semua namanya nih, pokoke teman-teman koor Caecilia Chorus
dan teman-teman lain yang secara tidak langsung yang telah membantu jalannya Misa dengan nyanyian dari Taize di Stasi Kim Tae Gon, Minggu 29 Agustus 2010 kemarin.

Tuhan selalu memberkati kalian semua!


  ditulis tanggal 16 Oktober 2010

You Might Also Like

1 comment(s)

About Me

Timo - a full-time explorer, a part-time writer, a film programmer, a movie passionate, an author of Sobekan Tiket Bioskop

Subscribe