Status Baru

Saturday, September 29, 2012

Yoi udah lama banget nih ga nulis disini. Dari kemaren-kemaren sibuk nulis di Sobekan Tiket Bioskop mulu. Balik lagi nulis disini, berasa udah lama dan ga biasa nulis langsung dari hati dan pikiran. Tjiyehhh!


Buat yang tergoda untuk baca karena judul postingan ini, sabar dulu. Karena gue mau cerita beberapa poin yang menggambarkan judul tersebut. Yesss!

Oke, ada yang masih inget tentang petualangan terbaru gue di Singkawang, Kalimantan Barat? Baca postingan-postingan tentang pengalaman gue itu disini ya. Nah terkait dengan pekerjaan tetap dan full-time gue pada waktu itu di bawah bendera World Vision Indonesia (WVI), gue resign. Haha!

Apa pasal? Simply karena sepeninggal bokap gue di 10 Maret 2012 kemarin, rumah jadi berkurang satu anggota keluarganya, dan gue ga mau pekerjaan gue membuat rumah ini bertambah sepi. Gue merasa nyokap gue masih butuh satu laki-laki di rumah, yang bisa ngebantuin apapun. 

Sebenarnya gue lolos di program Management Trainee (MT) di WVI itu. Namun karena kebijakan di WVI bahwa lulusan MT akan ditempatkan di daerah pelayanan di luar Jawa, membuat gue mengambil keputusan untuk resign. Gue sudah mencoba untuk berbicara dengan yang berwenang di WVI, namun ternyata tidak ada tempat buat gue di Jakarta (kantor pusat), entah karena biasanya di kantor pusat dibutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman di lapangan atau memang karena tidak ada vacancy di kantor pusat. Maka gue pun dibuat tidak lulus oleh manajemen, agar gue tidak perlu membayar penalti karena keputusan mundur gue.

Mundurnya gue dari WVI membuat gue kembali menganggur selama kurang lebih dua bulan; Agustus dan September. Praktis tidak ada pemasukan tetap. Terima kasih kepada niat baik teman-teman gue yang membuka usaha training centre, gue bisa mendapatkan secercah uang demi bensin motor. Yang sulit adalah bagaimana gue harus rela melunturkan idealisme gue. Kalau teman-teman ingat dengan tulisan gue di Tiket Pulang, betapa gue ingin sekali mencapai aktualisasi diri gue dengan bekerja di sebuah organisasi humanitarian yang membantu meningkatkan hajat hidup orang yang kurang beruntung. Namun keputusan gue untuk tetap tinggal di Jakarta demi menemani nyokap, harus membuat gue melunturkan idealisme tersebut. Simply karena jarang ada LSM/NGO yang beroperasi di ibukota ini, kalau ada pun hanya kantor pusat yang biasanya diisi oleh orang-orang yang telah banyak makan asam garam. 

Kesulitan gue untuk menembus LSM/NGO di ibukota ini membuat gue sedikit banting setir; saatnya mengarahkan CV ke perusahaan-perusahaan korporat keparat yang berpatokan hanya pada laba, laba, dan laba. HR, Trainer, atau Researcher adalah pilihan posisi yang gue incar yang rasanya cukup sesuai dengan pengalaman dan minat yang gue miliki. Setidaknya dengan bekerja di sebuah perusahaan yang mengutamakan laba, gue dapat mendapatkan insentif yang lebih demi menutupi kekecewaan akan aktualisasi diri gue yang belum dapat dipenuhi. Sementara untuk jiwa sosial gue yang sedikit terbengkalai, dapat gue arahkan dengan melayani sepenuh hati di OMK Gereja St. Yakobus. 

Sambil menghabiskan waktu nongkrongin JobsDB dan JobSearch serta mengikuti beberapa Job Fair yang diadakan di pusat kota. Terhitung ada dua kali psikotes yang gue ikuti di dua perusahaan yang berbeda, tapi tidak ada tindak lanjut lebih jauh. Alias gue gagal di tahap pertama tersebut.

Namun ternyata hubungan pertemananlah yang menyelamatkan hidup gue. Tingkat despair gue mencapai puncaknya dan memaksa gue untuk mengemis pekerjaan ke teman-teman kuliah gue yang sudah lebih dulu membangun karir mereka. Terima kasih kepada What'sApp yang membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Pada akhirnya gue mengontak salah seorang teman semasa kuliah yang telah bekerja di suatu perusahaan retail. Dia pun meminta gue untuk mengirim CV gue ke dia untuk diteruskan ke atasannya, terkait dengan beberapa posisi yang dibutuhkan di divisi HR.

Singkat cerita, gue ditelpon oleh perusahaan tersebut untuk hadir di psikotes dan wawancara dengan HR di sebuah hari Jumat. Lolos dan gue langsung dijadwalkan untuk wawancara dengan user di hari Senin. Seusai wawancara, salah seorang staf HRD menghampiri gue dan bilang bahwa gue diterima, dan langsung diminta untuk tanda tangan kontrak. Voila! 

Sekarang gue adalah seorang Trainer di sebuah perusahaan bisnis retail :D

Proses yang cepat sekali ya untuk mendapatkan status baru sebagai karyawan!

Nah, status baru lainnya pun didapatkan dengan proses yang cukup cepat pula ;p

Semua ini bermula dari akhir. Akhir hayat dari bokap gue tercinta. Beberapa detik setelah bokap gue menghembuskan nafas terakhirnya, gue mengirim sms kepada beberapa orang terdekat, yang gue anggap mewakili berbagai komunitas yang gue ikuti; The Gank, gereja, dan kampus. Tapi ada satu orang lagi yang gue sms, entah kenapa, jari gue membawa gue untuk mengirim sms berita duka cita ini ke anak ini. Untuk selanjutnya kita sebut aja MM :D

Sedikit flashback, MM ini adalah satu diantara "mantan gebetan" gue yang, of course, gagal untuk melanjutkan hubungan ke ranah yang lebih dalam daripada teman. Kejadiannya di penghujung tahun 2007, dan gue sangat menikmati masa-masa dimana gue menggebet anak ini. Bisa dibilang, dia adalah (mantan) gebetan gue yang paling "sukses" diantara yang lain. Dalam dua-tiga bulan tersebut, hubungan kedekatan kami cukup intim, dan proses PDKT itupun naik ke level berikutnya dimana gebetan-gebetan gue yang lain belum pernah mencapainya; dikenalkan ke teman-teman terdekat gue. Namun sayang, proses PDKT itu pun harus kandas ketika *beep*. Maaf ya harus di-sensor, ya pokoknya kandas lah. Berimbas pada patah hati dan berbagai postingan galau di blog lama gue, Elmo's Street. Sayang udah kehapus. Hehe.

Balik ke tahun 2012. Sore harinya di Rumah Duka St. Carolus, disaat gue sedang sibuk mempersiapkan ibadat, gue melihat si MM ini sedang duduk manis sendirian diantara deret bangku yang lain. Sontak gue memekik gembira dalam hati. Entah kenapa gue begitu senang, tapi gue ngerasa senangnya itu senang banget. Maksudnya, pernah ga sih lo, saking senangnya melihat/merasakan sesuatu, sampai pengen cerita dan berbagi kesenangan itu ke orang lain? Nah itu yang gue rasakan; pengen banget cerita "eh, si MM dateng!" ke orang lain yang ada di dekat gue pada saat itu. Sayangnya, ga ada orang yang "proper" untuk diceritakan hal seperti itu. Paling banter sih ya kakak gue, tapi dia pun ga tau menahu tentang latar belakang si MM, jadi ya percuma. Gue simpan saja deh ahahaha.

Momen itu berlanjut ketika ibadat selesai dan para pelayat memberikan ucapan belasungkawa kepada gue dan keluarga. Gue melihat si MM ikut mengantri di belakang, dan tiba-tiba antrian orang-orang untuk salaman itu berasa lamaaaaaaaaaaaaa banget. Setelah penantian panjang dan senyuman template, si MM telah berada di depan gue. Setelah salaman, entah kenapa bahasa tubuh kami berdua mendorong kami untuk saling memeluk. Dan...

pelukan itu pun tak terhindarkan.

Berbagai pertemuan, diskusi dan waktu pun menjawab semuanya. Singkat cerita, kami pun berkomitmen menjadi pasangan di 5 Agustus 2012. Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa selamat tinggal JSL (Jomblo Sejak Lahir).


Proses status baru yang ini juga mirip-mirip dengan status pekerjaan ya; cepat dan tidak terduga. Siapa yang menduga kalau ternyata pacar pertama gue adalah mantan gebetan gue? Hehe.

Anyway, sepertinya alam semesta telah kembali berbaik hati pada diri gue. Yah, gue mengawali tahun 2012 ini dengan banyak kesulitan dan kemalangan. Namun di penghujung akhir tahun, roda nasib sedang berputar. Pekerjaan dan pemasukan tetap sudah di tangan, partner hidup pun akhirnya ditemukan.

So, what's next?

:D

You Might Also Like

0 comment(s)

About Me

Timo - a full-time explorer, a part-time writer, a film programmer, a movie passionate, an author of Sobekan Tiket Bioskop

Subscribe