Mulai dari Nol

Sunday, April 14, 2013

Baru-baru ini, gue resign dari pekerjaan gue.


Sebuah keputusan yang cukup sulit, mengingat betapa akan menjadi kutu loncatnya gue karena rasanya engga pernah bekerja secara profesional diatas satu tahun. Ditambah dengan segala macam justifikasi yang gue rasionalisasiknya, yang pernah gue tulis dalam tulisan Idealisme vs Realita Hidup. Tapi ternyata, alasan untuk berhenti jauh lebih kuat daripada alasan untuk bertahan.

Salah satu alasannya yang menjadi trigger utama adalah jarak. Dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan waktu tempuh yang tidak sebentar, ternyata sedikit banyak berpengaruh pada kesehatan gue. Sampai pada puncaknya Ketika Gue Masuk ICU itu. Dari situ gue mikir, dulu alasan gue untuk resign dari WVI adalah karena gue merasa dibutuhkan untuk tetap di rumah di Jakarta ini (baca: Status Baru). Namun kalau memang gue kerja di Jakarta tapi kantornya jauh sehingga berpengaruh pada kesehatan sehingga gue jadi gampang sakit, ya sama aja boong lah ya.

Alasan berikutnya adalah, profesi gue yang seorang Trainer itu yang membuat gue menjadi sulit untuk bertahan. Berhubung gue bekerja di sebuah perusahaan retail, jadi ya segala hal yang gue ajarkan kepada peserta training ya tidak jauh-jauh dari dunia retail. Singkatnya, yang gue ajarkan (ternyata) adalah hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana dapat menjaring konsumen lebih banyak, bagaimana strategi mencapai target, bagaimana membentuk mindset yang kalau lihat konsumen masuk toko langsung melihat kepala konsumen tersebut sebagai "dollar" atau "rupiah" yang kelap-kelip. Awalnya gue masih oke karena masih tertutup oleh motivasi dan semangat yang tinggi. Tapi ketika ngajar kedua kalinya, gue mulai merasa bahwa gue ngajar orang bukan dari hati, tapi dari sistem atau modul yang ada. Ini yang membuat gue untuk berpikir, man buat apa gue ngajarin orang suatu hal tapi gue sendiri engga cocok atau engga setuju dengan hal yang gue ajarkan itu. Apalagi dengan pengalaman gue ngajar teater di gereja dimana gue ngajarnya benar-benar dari sepenuh hati, perbedaannya terlihat jelas dan sangat kontras. Mulai dari cara ngajar, pilihan kalimat, hingga ide-ide inovasi baru yang keluar dari kepala gue. Maka ketika sampai titik dimana "man, gue ga cocok sama mindset orang retail", i decided to quit.

Lalu gue pindah kemana? Nah kebetulan banget, entah jalan Yang Diatas atau gimana ya, dalam bulan-bulan awal kegalauan gue apakah mau lanjut atau berhenti, gue sudah mendapatkan tawaran kerja di tempat baru. Kondisinya cukup sempurna dengan kebutuhan gue; posisi yang selama ini gue incer (CSR: Corporate Social Responsibility) dan lokasi kantor yang di Kelapa Gading! Uhuy, cuma 15 menit dari rumah naik motor! Isinya pun kebanyakan teman-teman kuliah gue. Bergerak di bidang management consultant. Tawaran ini tentu gue simpan dulu sementara gue memastikan kelanjutan gue di perusaan retail ini. Ketika keputusan itu keluar dari mulut gue, ya gue langsung bilang iya ke tawaran baru ini. 

Menarik, tapi ada beberapa hal yang membuat gue cukup minder.

Pertama, ya ampun gue bener-bener jadi kutu loncat! WVI tiga bulan, perusahaan retail ini enam bulan. Jadi hancur minah CV gue. Karir dalam tanda kutip pun jadi engga jalan-jalan, apalagi angka salary gue yang tetep aja di angka segitu. Yang kalau disambungkan ke angka umur gue sekarang, ya Tuhan jadi apa anakMu ini nanti. Gue bener-bener merasa harus mengulang dari awal lagi. Karir, pekerjaan, hingga pengetahuan. Setelah lama beradaptasi dengan minset "retail", kini gue harus kembali beradaptasi dengan mindset "sosial". Ya memang tidak sulit sih, tapi kapan gue akan merasa bisa ahli di suatu bidang pekerjaan ya.

Kedua, gue minder dengan teman-teman kantor baru gue. Yang dari sepengetahuan gue, rata-rata memiliki prestasi akademik yang gemilang dan dijustifikasi oleh angka IP yang mepet ke 4. Sedangkan gue aja kadang-kadang masih suka lemot atau lama nangkep suatu hal. Plus ditambah fakta bahwa rata-rata tahun angkatan gue diatas mereka, hal ini yang menjadi beban tersendiri bagi gue untuk menunjukkan performa sangat baik. Meskipun gue sadar jelas bahwa permasalahan tahun angkatan sangat tidak berpengaruh di fakultas Psikologi UAJ.

Situasi tersebut memang sebuah situasi yang gue harapkan sih sebenarnya. Dari dulu gue selalu suka berkegiatan atau berorganisasi bersama orang-orang pintar (karena gue jauh dari pintar) karena gue merasa tertantang dan meningkatkan daya saing gue. Contoh nyata waktu jaman gue demen freelance di kerjaan training bersama kebanyakan temen-temen kuliah juga, gue menjadi sangat tertantang karena mereka semua benar-benar bekerja dari hati dan menunjukkan performa 120% dari kapabilitas mereka. Selama itu memang gue agak minder tapi gue bener-bener merasa tertantang untuk menunjukkan performa yang sama. Gue belajar banyak sih dari mereka tentang motivasi hingga niat mencari referensi lain untuk mendukung pengetahuan dan performa pekerjaan.

Well, jadi agak lega sih setelah gue menulis tulisan ini.

Besok hari pertama gue! Semoga di pekerjaan baru ini, gue bisa bertahan minimal satu tahun. Dan gue bisa bekerja dengan hati. Posisi ini, dan pekerjaan ini, cocok dengan passion gue! Dengan lokasi yang cocok juga dengan kebutuhan gue!

Gue pasti bisa!

HAH!


You Might Also Like

2 comment(s)

  1. oh well...hidup emang pilihan. ya lo berhak milih kerja di tempat yang lo suka walopun jatohnya jd kayak kutu loncat dgn gaji masih segitu2 aja, berasa kalah ilmu sama temen2 yang laen. yang penting mah kudu sabar, pasti ada jalannya buat sukses. semua orang udah ada jalannya masing2, tinggal masalah waktu dan kesabaran. good luck then! God Bless :) -peni-

    ReplyDelete
  2. Sukses di perjalanan berikutnya, Mo.
    Jalan Tuhan emang ga nyampe dipikir manusia. Tapi selama dimaknai bahwa Tuhan yang campur tangan, lalu mengandalkan Tuhan dan melakukan yang terbaik, pasti akan indah.
    Klise kalau ditulis, susah bukan main kalau dijalanin.

    Ganbaru!

    ReplyDelete

About Me

Timo - a full-time explorer, a part-time writer, a film programmer, a movie passionate, an author of Sobekan Tiket Bioskop

Subscribe